Kamis, 01 Mei 2014

Seputih Abu-abu

Desah nafas memburu. Aliran darah turut berpacu. Ikut menjemput bersama sang waktu. Yang jauh terkubur dimasa lalu. Kisah Putih dan Abu-abu…

Aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan ini. Membiarkan ingatanku larut bersama udara yang menjemput kenangan masa lalu. Secuil kisah yang bahkan sudah rapuh tertimbun oleh waktu. Helaan nafasku pun sudah ragu untuk mengenali memori kala itu. Sebegitu jenuhkah otakku karena terus dijejali dengan ingatan tentang rasa itu? Pandanganku membeku, tatkala mataku berhenti pada satu titik. Objek itu seakan menahan kedua indra penglihatanku untuk tidak lepas dari sana. Dia…

Putih dan Abu-abu. Dua perbedaan yang bukan tak mungkin untuk bisa disatukan. Pada kenyataannya pun kisah indah selalu berawal darinya. Dimasa putih abu-abu.

Lagi-lagi aku hampir tergelincir. Tergelincir pada kesalahan masa lalu yakini kian terjadi lagi. Aku mulai mengagumi sosok laki-laki (lagi). Diam-diam hatiku mengabadikan sosoknya.
Satu sisi mencoba mengenali. Meskipun yang lain tak pernah peduli. Aku tetap diam dan menanti. Menunggu asa yang tak akan pernah terjadi. Seperti Abu-abu yang mencoba menjadi Putih.

Seorang pemusik yang tak akan kusebutkan namanya disini. Dia seolah menarikku kedalam pusat medan magnetnya. Membuatku tak hentinya tentang apa yang kurasa disaat aku memandangnya, bahkan mengingatnya. Rasa itu membuncah tatkala aku berpas-pasan dengannya, atau saat dia secara tak sengaja menatapku disaat aku sedang memandangnya juga.

Dalam diam aku mencoba mengetahui segala tentangnya. Setiap jam istirahat aku tak pernah melewatkan untuk melihatnya. Karena jurusan kami berbeda, aku pun yang harus lebih berjuang untuk bermodus agar bisa melihat sosoknya; resiko jatuh cinta diam-diam.  Ingin sekali aku bisa melalui istirahat dengannya. Setidaknya, berbicara tentang apa yang dipelajarinya tadi.
Diluar semua itu, sisi lain diriku mengatakan sebaliknya. Menyembunyikan ketertarikanku padanya dibalik ketidakpedulianku. Aku bersikap seperti yang seharusnya, seperti aku yang tidak mengenalnya. Tidak sedikit pun aku menunjukan kekagumanku padanya, tidak juga pada orang-orang disekitarku, kecuali pada kedua sepupu perempuanku yang kebetulan sebaya denganku.  Rasa itu seakan terus membara. Benarkah aku menyukainya?

Putih dan Abu-abu terus berlari. Mencoba menemukan ujung akhir rasa ini. Walaupun untuk tidak dikenali. Demi suatu yang tak pasti.
Semua memang  terasa berbeda disaat aku sudah berada di kelas XI. Tidakku duga, semua yang tercetus oleh anganku dapat diwujudkan sang waktu. Dia mengenalku. Dan aku, tentu saja sudah mengenalnya dari dulu, walaupun dalam geriliya ku sendiri. Tapi kebalikan dari semua itu, keakraban kita semakin berkurang ketika kita berbeda jurusan. Kamu, mantan teman kelas X ku yang kini masih menguasai apa yang seharusnya tidak kau kuasai;hatiku.

Memang saat kelas X kami terlihat cukup akrab. Tapi keakraban aku dan dia diluar maksud perasaan hati yang sebenarnya. Munafik memang. Bahkan sudah sedekat ini aku tetap tidak pernah menunjukan perasaanku. Kemunafikan itu memang selalu menjadi tamengku disaat rasa itu kian menghantuiku. Rasa itu tak akan pernah berhenti tumbuh dan akan selalu menunggu untuk dikenali. Begitu juga, kemunafikan selalu berhasil menyelip.

Aku mulai merasa bosan dengan suasana ini. Kerjaan rutinku yaitu mencari lagu yang kira-kira cocok untukku. Aku menemukannya. Beberapa lagu yang kurasa cocok untukku. Kuputar lagu itu dengan volume pelan kala guruku memilih untuk hanya memberikan tugas, takut mengganggu kesibukan yang lain. Musiknya mengalun lembut ditelingaku. Menghanyutkan aku dalam setiap liriknya.
Benarkah aku menyukainya? Pertanyaan itu muncul lagi. Hatiku tak mampu menjawabnya. Masih berada dikebimbangan diriku. Perasaan itu masih ada, dan terus tumbuh setiap harinya. Begitu juga dengan yang satunya. Ia tetap mampu bertahan, hingga munafik itu bisa menyamainya. Semuanya mendatangkan keraguaan. Aku takut ini hanya fatamorgana yang akan hilang dalam sekejap. Tidak. Batinku mulai berteriak. Bukankah itu hanya kepura-puraan yang selalu kutunjukan di depannya? Aku menyukainya. Masih setia menjadi pengagum rahasianya. Dan mungkin akan begitu seterusnya.

Adakalahnya Putih dan Abu-abu berlalu. Meninggalkan segala yang tak tentu. Pasrah pada sang penentu. Berharap kisah dibekukan oleh waktu.

Hingga di sebuah lamunanku, aku sempat berfikir cukup berlebihan.
Bila aku tak berujung denganmu

Biarkan kisah ini ku kenang slamanya

Tuhan tolong buang rasa cintaku

Jika tak kau izinkan aku bersamanya.


Aku sering menulis hal-hal penting yang sedang aku rasakan. Termasuk artikel ini. Sungguh lucu. Ribuan kata tersusun yang terkadang aku pun tak sadar aku bisa menyelesaikan tulisan-tulisanku ini, terkadang pula kubaca ulang dan kupahami maknanya dalam-dalam. Seperti yang terus kulakukan selama ini. Sehingga rasa ini tidak terlalu terasa menyesakkan. Yah, pada akhirnya aku menyimpulkan, mencintai  dalam hati akan lebih baik jika terus tersimpan rapi dan tetap disana. Tak akan pernah berubah, dan indahnya masih sama.